Pages

 

Kamis, 13 Desember 2012

Obrolan Malam Eratkan Ibu dan Anak

0 komentar
Ibu dan Anak
Keakraban dalam keluarga bisa dijalin dengan berbagai cara yang sebenarnya cukup simpel, hanya saja kita sering meremehkannya. Obrolan malam di atas tempat tidur, misalnya, belum banyak dimanfaatkan untuk melakukan bonding dengan anak.
"Menjelang tidur merupakan waktu yang paling tepat untuk mempererat hubungan Anda dengan anak," tukas Kim West, pendiri International Association of Child Sleep Consultants. Percakapan yang dilakukan sebelum tidur antara orang tua dan anak, menurut Kim dapat membantu anak untuk tidur lebih nyenyak. Selain itu, percakapan santai sebelum tidur dapat membantu anak tidur dalam rasa yang aman, dicintai, dan penuh dengan pikiran bahagia.

Untuk membantu Anda memulai ritual percakapan sebelum tidur dengan anak-anak, lakukan beberapa tips berikut.

1. Buatlah jadi kebiasaan.
Agar lebih mudah untuk membuat percakapan sebelum tidur menjadi hal yang "wajib" dilakukan setiap malam, jadikan obrolan malam menjadi sebuah rutinitas atau kebiasaan. Konsistensi Anda sangat menentukan dalam hal ini, luangkan waktu bahkan jika hanya untuk beberapa menit. Dengan keinginan Anda untuk konsisten melakukannya setiap malam, Anda dan anak akan membuat kegiatan ini menjadi sebuah kebiasaan yang ditunggu-tunggu setiap harinya.

2. Bicarakan tentang kesukaannya. Saat pertama kali memulai, pasti akan terasa lebih sulit untuk Anda dan anak-anak. Rasa canggung ketika memulainya pertama kali tak jarang membuat suasana menjadi kaku. Untuk menghilangkan kekakuan ini, mulailah pembicaraan dari hal-hal yang menarik perhatiannya. Misalnya jika ia menggemari fashion, cobalah memintanya untuk membayangkan dirinya merancang pakaian untuk semua teman-temannya. Jika ia sedang ngefans dengan Selena Gomez, ajaklah ngobrol tentang lagu favoritnya, dan tanyakan mengapa ia sangat menyukainya. Atau jika memungkinkan, bicarakan berbagai hal yang penuh dengan fantasi sebagai penghantar agar anak tidur dengan mimpi indah.

3. Cari topik ringan. Jika bosan membicarakan hal-hal kesukaannya, cobalah untuk membahas topik-topik ringan lainnya. Meskipun anak termasuk kritis, ketika akan tidur hindarilah untuk membicarakan topik yang terlalu berat. Membicarakan topik yang berat akan membuat pikiran anak menjadi terganggu, dan bahkan ketakutan. Sebaiknya, ketika tidur buat pikiran anak lebih rileks dan santai, agar anak lebih segar saat bangun tidur dan bersemangat menjalani esok hari.

4. Gunakan alat bantu
. Jika Anda merasa bingung mengenai topik yang akan dibicarakan, cobalah untuk membeli atau membuat sendiri kartu mimpi yang bisa menampilkan gambar untuk membantu memulai percakapan. Kim West menyarankan untuk mendapatkan bantuan dengan bermain "Tiga Hal". Dengan permainan ini, Anda dan anak bisa mengatakan tiga hal tentang hari Anda berdua. Atau bisa juga Anda meminta anak Anda untuk membuat agenda mimpi, tanyakan kepadanya tentang mimpi apa yang dia inginkan malam ini.
Read more...

Cinta yang Erat Cegah Gangguan Emosi Anak

0 komentar
Cinta yang Erat
Jangan ragu mengekspresikan cinta Anda untuk si buah hati. Ikatan emosional yang baik antara orangtua dan anak harus dikembangkan sedini mungkin karena berdampak jangka panjang dalam kehidupan anak.

Anak-anak yang memiliki bonding atau ikatan yang kuat dengan orangtuanya lebih jarang memiliki gangguan emosi atau perilaku di usia sekolah.

Kedekatan emosional dengan anak ternyata punya manfaat yang sama jika dibangun oleh kedua orangtua atau orangtua tunggal. Masa yang dianggap penting untuk membangun bonding adalah dua tahun pertama kehidupan anak.

"Periode dua tahun pertama sangat penting untuk perkembangan emosional dan sosial anak, setidaknya salah satu orangtua harus meluangkan waktunya untuk melakukan bonding," kata Sanghag Kim, pakar di bidang psikologi.

Dalam penelitiannya Kim mengevaluasi hubungan dari 86 bayi berusia 15 bulan yang memiliki orangtua, kemudian diikuti sampai anak berusia 8 tahun.

Yang menarik, ternyata efek ikatan yang erat pada anak dengan orangtua tunggal memiliki perkembangan emosional yang sama dengan anak dengan orangtua utuh.

Kim menjelaskan, rasa aman dan hubungan yang positif dengan salah satu orangtua sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan anak akan rasa aman sehingga cukup sebagai fondasi bagi perkembangan emosinya.
Read more...

Cegah Kanker Payudara dengan Buah dan Sayur

0 komentar
Wanita sehat makan buah
Rajin mengasup buah dan sayuran bukan hanya membuat kita terhindar dari kegemukan dan penyakit jantung, tapi juga kanker payudara.

Khasiat antikanker dalam buah dan sayuran berasal dari mikronutrien karotenoid yang akan menghambat pertumbuhan tumor dan mengurangi penyebaran kanker payudara.

Karotenoid bisa kita temukan dalam wortel, bayam, kale, tomat, paprika, ubi, dan sayuran lainnya.

"Ada beberapa bukti penelitian sebelumnya yang menyebutkan kandungan dalam sayur dan buah menurunkan risiko kanker," kata Dr.Stephanie Bernik, ketua bedah onkologi dari Lenox Hill Hospital, New York, AS.

Dalam penelitian terbaru yang dipimpin A.Heater Eliassen dari Brigham and Womens Hopital dan Harvard Medical School, dianalisa data ribuan wanita yang berpartisipasi dalam 8 penelitian mengenai level karotenoid dan kanker payudara.

Mereka menemukan adanya kaitan yang signifikan antara karotenoid dalam level tinggi dengan penurunan risiko kanker, terutama kanker payudara negatif atau tumor yang tidak disebabkan estrogen.

Pada tumor payudara yang positif atau yang merespon estrogen, ditemukan juga manfaat penurunan risiko kanker dari karotenoid.
Read more...

Wanita Bahagia Lebih Tahan Kanker Payudara

0 komentar
Wanita Sehat
Ikatan emosional yang erat dengan pasangan, teman, dan keluarga, berpengaruh cukup besar dalam membantu seorang wanita penderita kanker payudara dalam melawan penyakitnya.

Wanita yang secara sosial terisolasi beresiko 61 persen meninggal dalam kurun waktu tiga tahun sejak penyakitnya didiagnosa. Para ahli mengatakan, dukungan emosional adalah faktor yang krusial dalam penyembuhan penyakit.

Penelitian mengenai kaitan antara ketahanan menghadapi kanker payudara dengan dukungan emosional keluarga dan teman tersebut dilakukan oleh tim dari Kaiser Permanente di California, AS. Penelitian itu melibatkan 2,264 wanita yang terdiagnosa kanker payudara.

Para wanita itu ditanyai mengenai hubungannya dengan suami, ibu yang masih hidup, saudara atau sahabat yang mendukung mereka. Jawaban para pasien itu diberikan dalam bentuk skor untuk merefleksikan kedekatan emosional yang dimilikinya.

"Kami menemukan bahwa wanita yang punya ikatan sosial lemah memiliki risiko kematian lebih besar dibanding dengan mereka yang mendapat dukungan emosional dari orang-orang yang menyayanginya," kata ketua peneliti Dr.Candyce Kroenke.

Ia menambahkan, sebenarnya yang lebih penting bukan jumlah teman atau anggota keluarga, tetapi kualitas dari hubungan tersebut. Bahkan wanita yang tidak dekat secara emosi dengan keluarga atau temannya tapi aktif dalam komunitas juga memiliki usia harapan hidup lebih tinggi.
Read more...

Pernikahan Dini Picu Kematian Ibu

0 komentar
Pernikahan dini memicu tingginya angka kematian ibu saat melahirkan. Selain minim sosialisasi tentang kesehatan reproduksi, faktor kemiskinan turut mendorong tingginya angka pernikahan dini. Mengakhiri pernikahan dini dan mengurangi angka kematian ibu di Indonesia masih menjadi tantangan berat.

Hal itu mengemuka dalam seminar ”Mengakhiri Pernikahan Dini dan Mengurangi Angka Kematian Ibu”, Rabu (12/12), di Jakarta. Acara itu dihadiri Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi; Direktur Eksekutif Women Research Institute, lembaga penelitian yang mengembangkan konsep tata pemerintahan adil jender, Sita Aripurnami; Wakil Bupati Gunung Kidul Imawan Wahyudi; dan Asisten Deputi Gender dalam Kesehatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dewi Yuniati.

Sita memaparkan, angka pernikahan dini di Gunung Kidul, DI Yogyakarta, melonjak dari 80 pernikahan pada 2010 menjadi 145 pernikahan tahun 2011. Usia pasangan yang mengajukan dispensasi menikah di Pengadilan Agama Kabupaten Gunung Kidul berusia 16-19 tahun.

”Dari penelitian kami, banyak remaja belum mengerti benar kesehatan reproduksi. Menikah di bawah umur dari segi kematangan organ tubuh, terutama bagi perempuan, sangat berbahaya ketika melahirkan. Hal itu menaikkan angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan,” ujarnya.

Di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, AKI mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup pada 2007. Sekitar 10 persen dari AKI adalah perempuan berusia 14-19 tahun. Faktor infrastruktur penunjang kelahiran yang minim di pedesaan turut memengaruhi angka kematian ibu saat melahirkan.

Menurut Nafsiah, UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan perlu disosialisasikan kepada remaja dan orangtua serta hakim di Pengadilan Agama.

Imawan dan Dewi sepakat, faktor kemiskinan turut mendorong tingginya angka pernikahan dini. Sebagian orangtua segera menikahkan anak perempuannya untuk meringankan beban ekonomi.
Read more...

Teh dan Madu Bakal Gantikan Antibiotik?

0 komentar
Fenomena resistensi kuman terhadap antibiotik yang kian mengkhawatirkan kembali disuarakan para pakar kesehatan. Resep pengobatan tradisional seperti teh dan madu dipersiapkan sebagai salah satu solusi alternatif dalam mengatasi kuman yang semakin kebal terhadap obat-obatan.

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan berulang-ulang merupakan penyebab terbesar suatu jenis bakteri menjadi resisten terhadap obat. Pakar kedokteran menyebut fenomena yang mengkhawatirkan ini dengan istilah “arms race”.

Ketidakmampuan suatu obat antiobiotik mengatasi bakteri kini menjadi momok setelah ditemukannya antibiotik pada tahun 1940-an. Kehadiran antibiotik sempat menjadi solusi yang efektif dalam mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Namun ketika bakteri sudah menjadi resisten terhadapnya, dibutuhkan alternatif lain yang dapat membuat pengobatan menjadi kembali efektif.

Prof. Les Baillie, dari Cardiff University Inggris menyatakan, bukan mustahil dunia akan kembali ke suatu masa dimana belum ditemukan antibiotik, sehingga pengobatan sejenis penyakit menjadi permasalahan besar.

Oleh karenanya, para ilmuwan  kini sedang mengupayakan membuat suatu sulosi alternatif  ketika bakteri sudah menjadi resisten terhadap antibiotik. Baillie  saat ini mengetuai tim riset untuk mencari tahu apakah obat kuno seperti teh dan madu dapat menjadi cara berikutnya sebagai obat yang paling efektif mengobati penyakit.

Teh diketahui mengandung suatu senyawa yang dinamakan polifenol yang memiliki kemampuan membunuh mikroorganisme.

Tim peneliti yang dipimpin Baillie telah menemukan, teh mampu untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh Clostridium difficile, bakteri yang bertanggung jawab untuk setidaknya 2.000 orang tewas dan lebih dari 24.000 kasus infeksi tahun lalu.

Rhidian Morgan-Jones, seorang ahli bedah dari Cardiff, mengatakan bahwa ada kekhawatiran nyata tentang masa depan dunia kedokteran saat antibiotik tidak lagi dapat digunakan.

Prof. David Livermore, dari Badan Perlindungan Kesehatan Inggris, bulan lalu memberi peringatan, operasi besar dan penanganan kanker akan menjadi lebih berbahaya lagi. Penggunaan antibiotik kemungkinan hanya akan bisa dilakukan untuk 10 tahun ke depan.

Perkembangan dunia kedokteran modern seperti perawatan intensif dan transplantasi organ akan berada di bawah ancaman tanpa antiobiotik. Oleh karenanya, segera dibutuhkan pengganti antibiotik.

Read more...

10 Film Romantis Indonesia 2001-2010

0 komentar

Tentu film yang romantis, mengisahkan romansa cinta sepasang kekasih. Ada beberapa judul film bertema cinta yang tengah tayang di bioskop. Stasiun TV juga menayangkan sejumlah film bertema cinta.
Kami juga tak mau ketinggalan merekomendasikan apa saja film-film romantis versi kami. Yang kami pilih sengaja film-film romantis buatan negeri sendiri. Rasanya untuk merekomendasikan film Hollywood terlalu jamak, untuk tidak mengatakan mudah. Lagipula, sesekali sineas kita menghasilkan film-film romantis yang tak kalah bagusnya dengan Hollywood.

Kami juga sengaja membatasi daftar ini selama sepuluh tahun dari 2001 sampai 2010. Tujuannya bukan lantaran ingin melupakan film-film romantis era lampau (Cinta Pertama, Badai Pasti Berlalu, Gita Cinta di SMA, atau Kejarlah Daku Kau Kutangkap). Tapi untuk lebih mendekatkan daftar ini pada Anda, pembaca budiman. Film-film sepanjang 10 tahun terakhir rasanya masih lekat dalam ingatan kita. Akses ke film-film itu juga lebih gampang, dari misalnya film era 1970-an atau 1980-an. (Kami janji lain kali bakal bikin daftar “Film-film Indonesia Paling Romantis Sepanjang Masa”)

Lantas, apa dasar kami memilih fim-film romantis berikut? Pertama, tentu filmnya memang romantis. Terjadi perdebatan yang mengasyikan saat kami membatasi hanya memasukkan 10 film sementara ada lebih dari jumlah itu kandidat film yang masuk.

Hasil box office film juga kami pertimbangkan. Karena jumlah banyaknya penonton, jadi indikasi paling mudah film tersebut berhasil membuat orang merasakan romantisisme di dalamnya.
Meski demikian, daftar ini bukan daftar film romantis paling laris. Bukan juga film idealis yang dimenangkan atas film komersil. Bagi kami, ukurannya bukan film komersil vs. film idealis. Ukurannya ya film A buat kami lebih romantis dari film B.

Kami sadar daftar ini sangat subyektif. Rasa romantis setiap orang berbeda-beda. Oleh karena itu, daftar ini bisa juga semacam undangan bagi Anda untuk membuat daftar film romantis versi Anda sendiri. Kami persilakan.

1. Eiffel… I’m In Love (2003, sutr. Nasri Cheppy)Tangan dingin Nasri Cheppy, sutradara yang sukses dengan Catatan Si Boy di tahun 1980-an, lahir sebuah film bagi remaja era 2000-an. Sukses film ini mendatangkan 3 juta penonton membuktikan sutradara senior era sebelum kebangkitan film pasca 1998 pun masih bisa nyambung dengan penonton generasi 2000-an. Dari sini pada hakikatnya, fim tak mengenal dikotomi sutradara tua dan muda. Yang ada adalah film bagus dan film jelek. Bagi 3 juta penonton Eiffel… adalah film yang mampu membuat mereka terhibur, merasakan nuansa romantis di bioskop. Diangkat dari novel karya remaja 17 tahun, film ini menangkat hubungan benci tapi cinta antara Tita (Shandy Aulia) yang manja dengan Adit (Samuel Rizal) yang cuek. Tita semula sudah punya pacar. Begitu pun Adit. Tapi dari benci malah jatuh ke hati. Saat cinta bertemu, mereka malah harus berpisah. Momen-momen model begini yang mungkin bikin penonton gregetan dan pada akhirnya, menyukai film ini.

 2. Romeo & Juliet (2009, sutr. Andibachtiar Yusuf)Sutradara Andibachtiar Yusuf meminjam lakon Shakespeare yang populer ke dalam kisah cinta 2 insan di tengah fanatisme pendukung tim sepakbola pujaan. Konflik keluarga Montague dan Capulet diganti pendukung Persib Bandung dan Persija Jakarta. Di antara The Jak, pendukung Persija, dan Viking, pendukung Persib, yang musuh bebuyutan terjalin cinta antara Rangga (Edo Borne) dengan Desi (Sissy Priscillia). Tentu cinta mereka tak direstui. Tapi, tentu pula, kekuatan cinta yang menang. Rangga-Desi akhirnya memutuskan untuk kawin lari ke kota lain. Situs filmindonesia.or.id menyebut film ini sebuah kisah cinta yang mengikuti alur drama Romeo-Juliet yang terkenal itu, berniat juga untuk melawan kekerasan dalam persepakbolaan.  

3. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010, sutr. Benni Setiawan) Dua anak manusia jatuh cinta. Tapi ada tembok besar yang menghalangi cinta mereka. Rosid (Reza Rahadian) dan Delia (Laura Basuki), dua anak manusia yang dimabuk cinta itu, mengucap nama Tuhan dengan cara berbeda. Rosid, Islam. Delia, Katolik. Film arahan Benni Setiawan ini menukik ke inti persoalan: apa jadinya bila dua sejoli beda agama memadu kasih? Film ini tak hendak memberi jawaban berupa doktrin. Melainkan hal-hal untuk direnungkan. Begitu membuminya 3 Hati… membuat peraih Film Terbaik FFI 2010 ini terasa sangat real, terutama bagi penonton yang mengalami dilema serupa. Pada akhirnya, penonton (lewat tokoh di film) dibiarkan memilih apa yang baik bagi mereka.

4. Ayat-ayat Cinta (2008, sutr. Hanung Bramantyo)Ayat-ayat Cinta (AAC) menandai kebangkitan kembali sebuah sub-genre yang lama tak dibuat sineas kita: film Islam(i). Sebelumnya, film bertema islami, macam Rindu Kami PadaMu (2004) karya Garin Nugroho, hanya populer di pinggiran. Lewat AAC, dengan popularitasnya hingga 3,8 juta penonton, film islami masuk ke ranah mainstream. Mengapa film islami bisa demikian digemari? Pangkal soalnya bukan karena negeri kita berpenduduk Muslim terbesar. Melainkan pada sosok Fahri (Fedi Nuril), mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir, yang menemukan persoalan pelik memilih wanita yang akan dinikahinya. Cinta segitiga yang kemudian dijalaninya dengan Maria (Carissa Putri) dan Aisha (Rianti Cartwright) berhasil mengharu biru kita. Siapa yang tahan tidak menitikkan air mata saat Maria akhirnya ikhlas melepas Fahri.

5. Heart (2006, sutr. Hanny R. Saputra)Sineasnya, Hanny R. Saputra menyebut filmnya menyajikan mood “keagungan cinta yang menggenang.” Maksudnya, tentang cinta yang tertahan lantaran tak bisa diekspresikan lebih bebas. Inti kisah Heart tentang cinta segitiga antara Farel (Irwansyah), Rachel (Nirina Zubir), dan Luna (Acha Septriasa). Farel jatuh cinta pada Luna. Tapi, Luna, walau juga menyambut cinta itu, Rachel berusaha terus menghindar. Di saat bersamaan, Rachel yang selama ini bersahabat dengan Farel, ternyata juga jatuh cinta pada Farel. Rachel tak bisa mengungkapkan cinta pada sahabatnya. Sedang Luna merasa percuma jatuh cinta karena sebentar lagi ia dijemput maut digerogoti penyakitnya. Buat menceritakan mood cinta segitiga Farel, Luna, dan Rachel tersebut Hanny menyuguhkan gabar-gambar yang indah dipandang mata, pemandangan maupun tata artistik yang sering kita saksikan dalam komik-komik serial cantik. Ingat momen pacaran di danau atau berlari-lari di pegunungan? Tak dipungkiri, film ini berhasil menyajikan suasana romantis.

6. Hari Untuk Amanda (2010, Angga Dwimas Sasongko)Anda mungkin pernah dengar, menjelang hari pernikahan cobaan berat biasanya datang. Film ini mengangkat mitos itu. Sepuluh hari jelang pernikahannya, Amanda (Fanny Fabriana) malah didekati mantan pacarnya, Hari (Oka Antara). Calon suami Amanda, Dody (Reza Rahadian) sibuk mengurusi pekerjaan kantornya. Alhasil, Amanda ditemani Hari mengantar undangan. Dalam perjalanan itu, keduanya menapaki lagi cinta yang dulu pernah dijalani. CLBK? Tentu. Tapi bukan itu inti film ini. Amanda sempat ragu apa mnikah adalah pilihan tepat baginya. Namun pada akhirnya ia tetap memilih. Cinta lama mungkin menggoda untuk dibangkitkan lagi, tapi apa cinta lama itu yang terbaik bagi kita? Amanda sudah menentukan pilihannya. Sebuah plihan yang menunjukkan kedewasaan diri.

7. Cin(T)a (2009, sutr. Sammaria Simanjuntak) Seperti 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, film ini juga mengangkat kisah cinta beda agama. Hanya saja, pendekatan yang dilakukan Sammaria Simanjuntak rasanya lebih baik dari 3 Hati… Pertama, ia mengandalkan filmnya pada dialog sejoli yang jatuh cinta, Cina (tanpa ‘Rakyat” tanpa “Republik”) ”) [“Aneh banget ya bokap lo. Udah tahu muka lo Cina. Masih dikasih nama ‘Cina’”] dan Annisa [“Tega kali bapak kau. Udah tau muka kau perempuan, masih dikasih nama perempuan”]. Yang kita saksikan bukan hanya adegan romantis yang tak biasa (jemari digambari yang saling menyatu) tapi juga ke persoalan filosofis tentang Tuhan, agama, hingga teror atas nama agama. Ini misalnya: “Kenapa Allah nyiaptain kita beda-beda. Kalau Allah ingin disembah dengan satu cara?” Yang dijawab, “Makanya Allah ciptain cinta. Biar yang beda-beda bisa nyatu.”

8. LoVe (2008, Kabir Bhatia)LoVe dibesut sutradara asal Malaysia, Kabir Bhatia. Isinya 5 cerita cinta yang tak saling berkaitan. Lima kisah dengan bintang terkenal. Ada Sophan Sophiaan, Widywati, Darius Sinathrya, Luna Maya, Surya Saputra, Wulan Guritno, Fauzi Baadila, Acha Septriasa, Irwansyah, dan Laudya Chintya Bella. Deretan pemain itu saja membuat filmnya menarik untuk dilirik. Belum lagi penggarapannya yang manis. Kabir berhasil merekam sudut kota Jakarta yang kita lihat sehari-hari (halte busway, gang sempit, kafe, hingga jalanan) terasa romantis dan sedap dipandang. Jangan tanya kisahnya. Anda pasti akan ikut terhanyut dan terkenang terus. Seorang pria pikun yang dicinta seorang wanita; suami yang dikhianati lalu menemukan cintanya kembali; juga tentang cinta tanpa pamrih, tulus, dan kekal.
 9. Claudia | Jasmine (2008, Awi Suryadi)Awi Suryadi, sutradara film ini, tergolong sineas muda berbakat. Buat saya, ini film terbaiknya. Kisah film ini sederhana saja. Tentang Claudia (Kirana Larsati), gadis SMA yang tak pernah pacaran lantas bertemu “pangeran tampan tanpa kuda putih”, dan Jasmine (Kinaryosih), gadis di penghujung usia 20-an yang kesulitan mencari jodoh dan di saat bersamaan lingkungannya mendesaknya untuk menikah. Awalnya kita mengira menonton dua film (film tentang Claudia dan film tentang Jasmine), tapi Awi rupanya memberi kejutan manis di akhir (yang rasanya dosa besar bila diungkap pada yang belum nonton film ini).

10. Ada Apa dengan Cinta? (2002, sutr. Rudi Sudjarwo)Tempo hari saya menonton lagi Ada Apa dengan Cinta? (2002) dalam rangka ultah 10 tahun film ini. Setelah 10 tahun, film ini masih membuat penontonnya terbetot pada pasang surut hubungan Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo). Dari segi pengisahan, plotnya meminjam ramuan komedi romantis: dari benci ke cinta, terpisahkan, lalu karakternya sadar kalau ia tak bisa pindah ke lain hati dan pada klimaksnya mngjar cintanya hingga ke bandara. Film ini memang ditutup dengan perpisahan. Tapi sebuah puisi manis, serta senyum Cinta dan Rangga, memberi rasa puas pada penonton. Kita masih ingat bait puisinya.Perempuan datang atas nama cintaBunda Pergi Karena CintaDigenangi air racun jingga adalah wajahmuSeperti bulan lelap tidur di hatimuYang berdinding kelam dan kedinginan Ada apa dengannya?Meninggalkan hati untuk dicaciLalu sekali ini aku lihat karya surgaDari mata seorang hawaAda apa dengan cinta?Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnamaUntuk Mempertanyakan kembali cintanyaBukan untuknya bukan untuk siapaTapi untukku... Karena aku ingin kamuItu saja...
Read more...